Buku ini menjawab banyak pertanyaan tentang Bung Hatta sebagai pribadi, politisi, maupun negarawan. Meski sejak muda anti-Belanda, kenapa akhirnya ia memilih melanjutkan belajar di negeri penjajah? Kenapa ia tak bergabung dengan Tan Malaka, aktivis pergerakan kemerdekaan lain yang ia kenal di sana? Bagaimana ia memandang peristiwa penculikan dwitunggal Sukarno-Hatta oleh para pemuda, sehari seb…
Buku ini menjawab banyak pertanyaan tentang Bung Hatta sebagai pribadi, politisi, maupun negarawan. Meski sejak muda anti-Belanda, kenapa akhirnya ia memilih melanjutkan belajar di negeri penjajah? Kenapa ia tak bergabung dengan Tan Malaka, aktivis pergerakan kemerdekaan lain yang ia kenal di sana? Bagaimana ia memandang peristiwa penculikan dwitunggal Sukarno-Hatta oleh para pemuda, sehari seb…
Dalam lebih dari dua dasawarsa (1808-1830) tatanan lama Jawa dihancurkan dan sebuah pemerintahan kolonial baru didirikan--suatu peristiwa yang mendorong kekuatan identitas kembar, Islam dan kebangsaan Jawa, ke dalam suatu perseteruan sengit dengan gelombang imperialisme yang dibawa oleh gubernemen Hindia Belanda.. Dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830), perseteruan itu berakhir dengan kekalaha…
Dalam lebih dari dua dasawarsa (1808-1830) tatanan lama Jawa dihancurkan dan sebuah pemerintahan kolonial baru didirikan--suatu peristiwa yang mendorong kekuatan identitas kembar, Islam dan kebangsaan Jawa, ke dalam suatu perseteruan sengit dengan gelombang imperialisme yang dibawa oleh gubernemen Hindia Belanda.. Dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830), perseteruan itu berakhir dengan kekalaha…
Dalam lebih dari dua dasawarsa (1808-1830) tatanan lama Jawa dihancurkan dan sebuah pemerintahan kolonial baru didirikan--suatu peristiwa yang mendorong kekuatan identitas kembar, Islam dan kebangsaan Jawa, ke dalam suatu perseteruan sengit dengan gelombang imperialisme yang dibawa oleh gubernemen Hindia Belanda.. Dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830), perseteruan itu berakhir dengan kekalaha…
Lewat Bukunya ini Peter Carey tak hanya berhasil menjabarkan kompleksitas peristiwa, tetapi juga menampilkan Diponegoro sebagai sosok manusia utuh, yang memiliki roh dan kepribadian. Membaca buku ini mampu mengilhami dan menginspirasi para pemimpin masyarakat, pendidik, sarjana dari berbagai bidang, serta seniman yang ingin menafsirkan peristiwa Perang Jawa bagi karya seninya.
Buku ini memperlihatkan, perempuan priayi dan perempuan keluarga keraton di Jawa Tengah selatan, setidaknya sampai akhir Perang Jawa (1825-1830), menikmati kesempatan bertindak atau mengambil inisiatif pribadi yang jauh lebih luas daripada saudari-saudari mereka yang hidup di akhir abad ke-19, di zaman Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Jejak mereka bahkan menembus bidang yang dianggap sebagai du…
Perang Jawa (1825-1830) adalah suatu tsunami'' dalam sejarah Indonesia modern yang menghancurkan tatanan lama Jawa dan melahirkan sebuah pemerintah kolonial baru Hindia Belanda (1818-1942). Perang total ini juga menjadi pemicu lahirnya historiografi baru. Untuk pertama kali dalam sastra Jawa modern muncul sebuah otobiografi--Babad Diponegoro (2832)--yang ditulis Pangeran Diponegoro (1785-1855) …
Setelah 200 tahun kelahiran Raden Saleh, buku ini hadir bukan saja untuk menjernihkan kontroversi ihwal jiwa kebangsaannya yang dipertanyakan. Lebih jauh lagi untuk memperlihatkan bagaimana sang bangsawan, maestro lukis dan ilmuwan ini telah mewariskan sesuatu yang luarbiasa mengejutkan pengaruhnya dalam sejarah pemikiran kebangsaan Indonesia dan mungkin jauh dari luar bayangannya sendiri. Hars…
Dalam penulisan sejarah selama ini kita rupanya telah mengabaikan sejarah lokal. Dalam dunia pendidikan, misalnya, kurikulum sejarah kita dari waktu ke waktu cenderung hanya menampilkan sejarah nasional--ini pun cenderung dijadikan legitimasi kekuasaan. Hal ini niscaya sangat disayangkan karena banyak peristiwa lokal yang bernilai edukatif, inspiratif, dan rekreatif. Tanpa pengetahuan tentang s…